Jumat, 16 Oktober 2009

Daya Saing TI Lemah, Apa Yang Harus Dilakukan Pemerintah?

JAKARTA - Indeks daya saing Teknologi Informatika (TI) Indonesia berada di posisi 59 dari 66 negara yang disurvei  Economics Intelligent Unit (EIU) dan disponsori BSA (Business Software Aliance). Lalu, apa yang harus dilakukan pemerintah?

"Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, sangat penting bagi pemerintah Indonesia untuk terus mendorong pertumbuhan sektor teknologi. Sangat penting bagi pemerintah untuk mendukung inovasi dan mengambil langkah untuk merangsang hasil sektor TI dalam menarik investor," rinci Direktur BSA Asia Pasifik Claro Parlede, saat konferensi pers, di Hotel Shangrila, Jakarta, Rabu (14/10/2009).

"Negara yang lemah dalam hal perlindungan hak kekayaaan intelektual umumnya bukanlah negara yang merupakan inovator dalam hal TI. Beberapa negara menggantungkan daya saing mereka dengan tenaga kerja yang murah. Hal ini sangat sulit bertahan dalam jangka waktu yang lama," cetusnya.

Dan berikut temuan-temuan lain dalam riset daya saing TI yang dilakukan EIU dan BSA.


1. Usaha-usaha yang terkoordinasi antara pemerintah, universitas dan perusahaan TI di Asia Pasifik diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelatihan teknologi dan memperluas perekrutan tenaga kerja potensial.

2. Negara-negara asia terus menghasilkan tenaga TI dalam jumkah besar, namun masih tertinggal dibandingkan dengan Amerika Utara dan Eropa dalam hal penyedian pendidikan teknologi secara menyeluruh.

3. Perlindungan hak kekayaan intelektual tetap menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing sektor TI. Di negara-negara maju, perlindungan terlihat sangat kuat, sedangkan di negara berkembang masih perlahan, terutama Vietnam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar